
Jalanan menuju kampus bergengsi kerap dianggap hanya terbuka bagi mereka yang memiliki keleluasaan finansial. Namun, Muhammad Ridho membuktikan, ketekunan dan semangat juang mampu mendobrak sekat-sekat tersebut. Berangkat dari Pulau Buton, Sulawesi Tenggara, ia datang ke Yogyakarta hanya berbekal mimpi dan status sebagai penerima Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah.
Kini, kisah perantauan itu berujung manis, bahkan sangat manis. Ridho, sapaan akrabnya, baru saja didapuk sebagai wisudawan terbaik UGM dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) fantastis: 3,94. Sebuah pencapaian yang bukan hanya membanggakan almamater, tetapi juga menjadi penanda bahwa wisudawan terbaik UGM Muh Ridho penerima KIP adalah kisah nyata yang inspiratif.
Anak Buton di Panggung Kehormatan UGM
Muhammad Ridho bukan hanya sekadar lulus. Ia adalah yang terbaik dari yang terbaik. Momen penobatannya di panggung wisuda seolah menjadi penutup sempurna atas empat tahun perjuangan di kota yang jauh dari kampung halaman. Gelar sarjana akuntansi yang ia raih di FEB UGM mengantarkannya pada posisi terhormat tersebut.
Bagi banyak orang, meraih IPK hampir sempurna di kampus sekelas UGM sudah merupakan tantangan luar biasa. Bagi Ridho, tantangan itu berlipat ganda. Statusnya sebagai mahasiswa penerima KIP Kuliah berarti ia harus berjuang ekstra keras. Beasiswa ini memang membantu biaya hidup dan pendidikan, namun beban untuk membuktikan diri dan tidak menyia-nyiakan kesempatan itu jauh lebih besar.
Tentu, jalan itu tidak mulus. Adaptasi dengan budaya baru di Yogyakarta, jauhnya jarak dari keluarga di Buton, hingga ketatnya persaingan akademik di FEB UGM menjadi bumbu perjuangan hariannya. Namun, semua itu ia hadapi dengan mentalitas seorang pejuang.
Mengubah Keterbatasan Jadi Kekuatan Lewat KIP Kuliah
Salah satu kunci utama keberhasilan Ridho adalah bagaimana ia memandang status penerima KIP Kuliah. Ia tidak melihatnya sebagai sebuah belas kasihan, melainkan sebagai sebuah tiket emas yang harus dipertanggungjawabkan. KIP Kuliah telah membuka pintu UGM, dan ia bertekad akan melalui pintu itu hingga ke panggung kehormatan.
Program beasiswa dari pemerintah ini memang dirancang untuk membantu anak-anak berprestasi dari keluarga kurang mampu. Ridho adalah bukti hidup keberhasilan program tersebut. Tanpa dukungan finansial ini, mungkin ia tidak akan mampu menjejakkan kaki di salah satu kampus terbaik di Indonesia.
Ridho menceritakan, dukungan finansial dari KIP Kuliah membuatnya bisa fokus penuh pada studi tanpa harus terlalu memikirkan biaya harian. Keuntungan ini ia manfaatkan dengan maksimal, mengubah waktu luang yang ada menjadi jam belajar tambahan dan eksplorasi ilmu di luar kelas.
Kunci Sukses: Bukan Sekadar IPK Tinggi, tapi Disiplin
Meraih IPK 3,94 tentu bukan sekadar masalah cerdas, tetapi juga disiplin dan strategi. Ridho menekankan pentingnya disiplin belajar yang konsisten. Ia selalu berupaya memahami konsep, bukan sekadar menghafal. Selain itu, Ridho juga aktif mencari pengalaman di luar kelas yang relevan, seperti mengikuti organisasi kemahasiswaan.
Pengalaman berorganisasi ini, meski menyita waktu, justru melatih keterampilan soft skill yang sangat dibutuhkan di dunia kerja. Ia membuktikan bahwa gelar wisudawan terbaik UGM Muh Ridho penerima KIP tidak dicapai hanya di dalam buku, tetapi juga melalui interaksi sosial dan kepemimpinan. Ini selaras dengan filosofi UGM yang mendorong mahasiswa menjadi insan yang seimbang.
Baca juga: Studi ke Timur Tengah dengan Beasiswa? Ini Tips Lolos Seleksi
Mimpi yang Dibawa dari Tanah Buton
Kisah sukses Ridho tidak lepas dari tanah kelahirannya, Pulau Buton. Dukungan keluarga menjadi fondasi utamanya. Jauh dari hingar bingar ibukota, keluarga Ridho di Buton selalu menjadi penyemangat saat ia menghadapi kesulitan.
Ridho merupakan representasi dari banyak anak daerah yang memiliki potensi besar namun terkendala akses dan biaya. Keberhasilannya ini otomatis mengangkat nama kampung halaman. Ia membawa harapan bahwa keterbatasan geografis dan ekonomi bukan penghalang utama untuk meraih pendidikan terbaik. Kisah ini menjadi inspirasi berharga bagi generasi muda di seluruh Indonesia, terutama mereka yang berada di pelosok negeri.
Harapan Setelah Gelar Wisudawan Terbaik
Lulus dengan predikat wisudawan terbaik membuka banyak pintu kesempatan. Ridho kini tengah menatap masa depan dengan penuh optimisme. Ia berencana untuk segera mengaplikasikan ilmu akuntansi dan bisnis yang ia pelajari, baik melalui karier profesional atau mungkin studi lanjutan.
Ridho berharap, kisah perjalanannya dapat memotivasi lebih banyak anak muda untuk berani bermimpi besar dan memanfaatkan peluang yang ada, terutama beasiswa seperti KIP Kuliah. Baginya, status finansial tidak menentukan batas akhir potensi seseorang. Kerja keras, doa, dan fokus adalah formula sederhana yang membawanya dari Buton ke panggung kehormatan UGM.
Kisah Muhammad Ridho, si anak Buton penerima KIP Kuliah yang bergelar wisudawan terbaik UGM dengan IPK 3,94, adalah pengingat kuat bahwa pendidikan adalah jembatan paling kokoh untuk mengubah nasib.

[…] Baca juga: Dari Pulau Buton, Muh Ridho Mahasiswa Penerima KIP UGM Menjadi Wisudawan Tebaik FEB Raih IPK 3,94 […]