
Di banyak pesantren, belajar tidak hanya dilakukan di kelas. Santri kini mulai dikenalkan pada dunia usaha yang menuntut keberanian dan kreativitas. Perubahan ini muncul karena kebutuhan zaman yang semakin dinamis. Pesantren pun dituntut melahirkan lulusan yang mandiri. Karena itu, cara mengajar bisnis di pesantren menjadi semakin penting.
Banyak lembaga mencoba berbagai pendekatan. Namun, Insan Kamil Nganjuk menawarkan model yang berbeda. Mereka terbukti memadukan tradisi pesantren dengan pembelajaran wirausaha berbasis praktik. Hasilnya, santri bukan hanya memahami teori, tetapi mengalami sendiri proses membangun usaha.
Mengapa Pesantren Perlu Mengajarkan Bisnis?
Pada titik inilah, pendidikan ekonomi di pesantren menjadi semakin relevan. Meskipun konsep kemandirian bukan hal baru, tantangan modern menuntut penguatan keterampilan wirausaha secara lebih sistematis. Santri kini memiliki peluang besar memasuki dunia bisnis—terutama karena mereka hidup di lingkungan yang kaya potensi, mulai dari pertanian, peternakan, kuliner, hingga produk kreatif. Dengan bekal sejak dini, mereka dapat tumbuh menjadi pelaku ekonomi yang berdaya. Inilah alasan Insan Kamil menjadikan penguatan wirausaha sebagai bagian dari visi pendidikan: agar santri memandang bisnis bukan sekadar soal keuntungan, tetapi juga sarana membentuk mental, logika, dan kepemimpinan.
Studi Kasus: Insan Kamil Nganjuk
Pesantren yang berada di wilayah pedesaan ini mengembangkan pendekatan pembelajaran yang dekat dengan kehidupan sehari-hari santri. Tidak berlebihan jika banyak yang menyebut Insan Kamil sebagai pesantren yang progresif dalam pemberdayaan ekonomi.
Fokus mereka jelas: membentuk santri yang mampu mengelola usaha sejak dini. Untuk itu, pesantren menghadirkan unit bisnis yang benar-benar berjalan, bukan sekadar simulasi.
Metode Praktis Mengajar Bisnis di Pesantren
1. Pembelajaran Berbasis Praktik
Di Insan Kamil, santri belajar lewat aktivitas nyata. Mereka tidak duduk lama di kelas membahas teori. Cara belajar seperti ini membuat konsep kewirausahaan lebih mudah dipahami.
2. Model Learning by Doing
Santri diberi peran dalam operasional usaha.
4. Mentoring dengan Pelaku Bisnis
Para pengajar mendatangkan pelaku usaha yang sudah berpengalaman. Mereka menjadi mentor yang memberikan arahan, memberi contoh, dan mengevaluasi perkembangan santri.
Unit Bisnis sebagai Laboratorium Pembelajaran
Dombastis: Restoran Domba
Restoran ini menjadi tempat belajar langsung bagi para santri. Mereka membantu memotong dan mengolah daging domba di dapur, mengantar makanan ke meja pelanggan, sampai membuat konten singkat untuk promosi menu di media sosial. Saat jam makan ramai, suasana restoran yang penuh membuat mereka melihat sendiri bagaimana bisnis kuliner berjalan—dari mengatur antrean, bekerja cepat di dapur, sampai menjaga pelayanan tetap rapi dan ramah.
Baca juga:
Astana Avocado: Kebun Alpukat
Kebun alpukat menjadi tempat santri belajar agribisnis secara langsung. Mereka belajar memilih bibit yang sehat, menyiram dan memupuk pohon, mengontrol hama, lalu memanen alpukat yang sudah matang. Setelah itu, mereka menimbang, mengemas, dan menjual hasil panen kepada pengunjung. Dari proses ini, santri memahami bahwa bisnis pertanian membutuhkan perawatan rutin, kesabaran, dan perhitungan yang tepat.
Dua unit usaha ini membuat pembelajaran bisnis benar-benar nyata. Santri bisa melihat seluruh alur kerja: di restoran mereka belajar mengolah daging, melayani pelanggan, dan membuat promosi; di kebun alpukat mereka merawat pohon, memanen buah, lalu menjualnya. Dengan demikian, santri memahami bisnis dari hulu ke hilir—mulai dari produksi, pengelolaan, hingga pemasaran langsung ke pembeli.
Kurikulum Bisnis yang Terstruktur
Kurikulum kewirausahaan Insan Kamil mencakup:
- Materi dasar kewirausahaan: perencanaan, modal, risiko.
- Komunikasi dan layanan pelanggan: keterampilan yang sangat dibutuhkan di dunia usaha.
- Pelatihan manajemen sederhana: pencatatan, inventaris, laporan harian.
- Evaluasi berbasis proyek: setiap proyek usaha santri dievaluasi secara terbuka.
Dampak Program terhadap Santri
Perubahan paling terlihat adalah peningkatan kepercayaan diri. Santri yang semula pemalu mulai berani berbicara di depan pelanggan. Mereka mampu mengambil keputusan kecil dan menyelesaikan masalah tanpa menunggu instruksi.
Kemampuan memecahkan masalah nyata juga tumbuh. Misalnya, stok bahan tiba-tiba habis atau pesanan melonjak mendadak. Santri belajar menyesuaikan strategi.
Yang paling penting, benih jiwa wirausaha tumbuh sejak dini. Banyak santri mulai membayangkan usaha yang ingin mereka bangun setelah lulus.
Tantangan dan Solusi
Tentu saja ada tantangan.
Fasilitas tidak selalu memadai. Jadwal belajar juga penuh sehingga harus ada penyesuaian. Namun, pesantren menyiasati dengan kolaborasi bersama masyarakat, memanfaatkan sumber daya sekitar, dan menata ulang jam praktik.
Pendekatan ini terbukti efektif. Santri tetap fokus belajar agama, sekaligus punya bekal keterampilan hidup.
