Kapan Waktu Terbaik Melaksanakan Aqiqah? Pendapat Ulama dan Dombastis

Kapan Waktu Terbaik Melaksanakan Aqiqah?. Gambar: Ai Gemini

Momen kelahiran anak adalah saat yang paling dinantikan dan penuh rasa syukur bagi setiap orang tua. Sebagai wujud terima kasih kita kepada Allah SWT atas karunia yang tak ternilai ini, syariat Islam mengajarkan kita untuk melaksanakan Aqiqah.

Namun, pertanyaan klasik yang sering muncul di kalangan umat muslim adalah: Kapan waktu terbaik melaksanakan Aqiqah itu? Apakah harus tepat di hari ketujuh, atau masih ada kelonggaran jika terhalang suatu kondisi?

Mari kita telaah lebih dalam, merujuk pada tuntunan sunnah dan pandangan para ulama, agar ibadah syukur kita ini menjadi sempurna.

Aqiqah: Syukur yang Berlimpah Pahala

Sebelum membahas waktu, penting untuk menegaskan kembali bahwa hukum Aqiqah adalah sunnah muakkadah, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan. Ia bukan kewajiban, namun keutamaannya sangat besar, sebagai penebus bagi sang anak dan pengikat rasa syukur orang tua.

Aqiqah adalah bentuk komitmen orang tua untuk mendidik anak dalam bingkai keislaman. Oleh karena itu, melaksanakannya di waktu yang tepat menjadi upaya orang tua untuk meraih kesempurnaan pahala.

Waktu Terbaik Melaksanakan Aqiqah Menurut Jumhur Ulama

Jika ditanya mengenai Waktu terbaik melaksanakan Aqiqah, para ulama sepakat merujuk pada hadis Nabi Muhammad SAW:

“Setiap anak tergadai dengan Aqiqahnya yang disembelih pada hari ketujuh, dan dicukur (rambutnya), dan diberi nama.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

1. Hari ke-7: Waktu Emas yang Dianjurkan

Mayoritas ulama, termasuk Mazhab Syafi’iyah dan Hanabilah, berpendapat bahwa waktu pelaksanaan Aqiqah yang paling utama dan afdal adalah pada hari ketujuh kelahiran anak.

Mengapa Hari ke-7?

  • Meneladani Sunnah: Ini adalah praktik yang dicontohkan langsung oleh Rasulullah SAW.
  • Kesempurnaan: Pelaksanaan pada hari ke-7 disandingkan dengan proses pemberian nama dan pencukuran rambut, yang menyempurnakan rangkaian penyambutan kelahiran.

Melaksanakannya tepat pada hari ke-7 tentu menjadi pilihan utama bagi orang tua yang dimampukan. Namun, syariat Islam hadir membawa kemudahan. Bagaimana jika orang tua berhalangan, baik karena kondisi finansial maupun kendala logistik lainnya?

2. Toleransi Waktu: Hari ke-14 dan ke-21

Jika pada hari ke-7 terdapat halangan, para ulama memberikan kelonggaran waktu. Terdapat hadis lain yang menyebutkan:

“Disembelih (hewan Aqiqah) pada hari ketujuh, jika tidak mampu maka hari keempat belas, jika tidak mampu maka hari kedua puluh satu.” (HR. Al-Baihaqi)

Berdasarkan hadis ini, waktu pelaksanaan Aqiqah bisa diundur menjadi hari ke-14 atau hari ke-21 setelah kelahiran, dengan tetap mempertahankan keutamaan yang tinggi.

Ingatlah, penundaan ini sebaiknya dilakukan jika memang ada alasan kuat. Jangan sampai menunda tanpa sebab, sebab menunda kebaikan bisa mengurangi keberkahannya.

Baca juga: Layanan Distribusi Aqiqah Dombastis: Amanah dan Tepat Sasaran

Batas Akhir Pelaksanaan Aqiqah

Lalu, bagaimana jika anak sudah melewati masa bayi dan mendekati usia sekolah? Sampai kapan Aqiqah masih menjadi tanggung jawab orang tua?

Sebelum Baligh: Tanggung Jawab Orang Tua

Pendapat yang paling kuat dan dipegang oleh jumhur ulama adalah bahwa kewajiban atau anjuran Aqiqah bagi orang tua berakhir saat sang anak mencapai usia baligh (dewasa). Selama anak belum baligh, tanggung jawab itu masih berada di pundak ayah atau wali.

Apabila orang tua tidak mampu melaksanakannya hingga anak baligh, maka anjuran tersebut gugur dari pundak orang tua.

Setelah Baligh: Boleh Meng-Aqiqahi Diri Sendiri

Namun, ada pendapat lain yang memberikan harapan. Imam Ahmad bin Hanbal berpandangan bahwa jika orang tua belum mampu melaksanakan Aqiqah, anak yang sudah baligh boleh meng-aqiqahi dirinya sendiri.

Ini adalah kabar baik bagi kita yang mungkin semasa kecil belum di-aqiqahi. Tindakan ini menjadi wujud tahsin (memperbaiki/menyempurnakan diri) dan meraih keberkahan yang terlewatkan.

Hukum dan Ketentuan Hewan Aqiqah (“Dombastis”)

Seringkali, istilah “Dombastis” digunakan secara populer merujuk pada domba atau kambing yang disiapkan untuk Aqiqah. Ada dua poin penting terkait hewan yang perlu dipahami:

  1. Jumlah Hewan:
    • Anak Laki-laki: Dua ekor kambing/domba
    • Anak Perempuan: Satu ekor kambing/domba
  2. Kriteria Hewan: Kriteria hewan Aqiqah mirip dengan kriteria hewan kurban, yaitu harus dalam kondisi sehat, tidak cacat, dan telah mencapai usia minimal yang ditetapkan syariat.

Pilihlah kambing atau domba yang terbaik (gemuk dan sehat) sebagai bentuk penghormatan dan syukur tertinggi kita kepada Allah SWT.

Sunnah Pelengkap Agar Aqiqah Sempurna

Pelaksanaan Aqiqah tidak hanya sebatas menyembelih hewan. Ada beberapa amalan sunnah lain yang dianjurkan untuk menyempurnakannya:

  • Daging Aqiqah Dimasak: Sunnahnya, daging Aqiqah dimasak terlebih dahulu sebelum dibagikan kepada fakir miskin, tetangga, atau kerabat, berbeda dengan daging kurban yang dianjurkan dibagikan mentah.
  • Mencukur Rambut: Mencukur seluruh rambut bayi (gundul) dan bersedekah perak seberat timbangan rambut tersebut.
  • Memberi Nama: Memberikan nama yang baik dan bermakna pada hari itu juga.

Waktu terbaik melaksanakan Aqiqah adalah anugerah, kesempatan emas yang diberikan Allah SWT untuk menyambut hadirnya buah hati dengan penuh ketaatan. Utamakan pelaksanaannya pada hari ke-7 jika dimampukan. Jika terhalang, manfaatkan waktu toleransi di hari ke-14 atau ke-21, atau jangan ragu untuk melaksanakannya sebelum anak baligh.

Ingatlah, keutamaan Aqiqah adalah menyambut fitrah anak. Jangan biarkan keraguan menunda amalan sunnah yang penuh berkah ini.


Siapkan hewan Aqiqah Anda dengan niat terbaik dan segera tunaikan syariat mulia ini!

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *